Senin, 22 Juli 2013

DIREKTUR PAI: SUBSTANSI KURIKULUM 2013 PADA PROSES PEMBELAJARAN

BANDUNG, DITPAIS - Kesuksesan pelaksanaan kurikulum 2013 sangat ditentukan oleh guru sebagai pelaksana di lapangan. Peran guru sebagai pelaku akan sangat menentukan terhadap perubahan pola pembelajaran yang diinginkan.
Hal ini amat penting untuk dipahami sebab jika guru tidak bisa melakukan perubahan diri maka perubahan kurikulum yang dikehendaki juga tidak akan pernah terjadi secara riel. Demikian jelas Direktur Pendidikan Agama Islam, Dr. H. Amin Haedari, M.Pd dalam memberikan arahan pada acara pelatihan guru pendidikan agama Islam sebagai calon instruktur nasional di Bandung (19/7).
Menurutnya, substansi perubahan dari Kurikulum 2006 (KTSP) ke Kurikulum 2013 ini adalah perubahan proses pembelajaran, dari pola pembelajaran ala bank, yaitu guru menulis di papan tulis dan murid mencatat di buku serta guru menerangkan-sedangkan murid mendengarkan-menjadi proses pembelajaran yang lebih mengedepankan murid untuk melakukan pengamatan, bertanya, mengeksplorasi, mencoba, dan mengekspresikannya.
"Substansi kerikulum 2013 memberikan porsi lebih besar kepada siswa, maka dari itu, guru harus memberikan ruang kreatifitas sekaligus juga dituntut untuk dapat memberikan stimulus kepada siswa agar kreatifiatas tersebut dapat tumbuh subur". Papar Amin Haedari
Proses pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif tersebut hanya mungkin terwujud bila mindset guru telah berubah. Pada kurikulum 2013 guru tidak lagi memiliki pemahaman bahwa mengajar harus di dalam kelas dan menghadap ke papan tulis. Mengajar bisa dilakukan di perpustakaan, kebun, tanah lapang, atau juga di sungai. Media pembelajaran pun tidak harus buku, alat peraga, atau komputer. Tanam-tanaman dan pohon di kebun, sungai, dan sejenisnya juga dapat menjadi media pembelajaran. Sambungnya
Mengubah mindset bukanlah pekerjaan yang mudah, karena apa yang selama ini dipahami dan dilakukan telah mengakar. Tidak mudah bukan berati tidak bisa, harus diciptakan kondisi agar paradigma lama guru dapat berubah. Dengan menciptakan kondisi, dimana seorang guru harus memiliki kreatifitas yang tinggi, menghargai hak peserta didik untuk bertanya, mengeksplorasi, dan mengekspresikannya.

"ketika kita datang ketempat yang telah di creat dengan peraturan yang ketat dalam membuang sampai misalnya, kita yang terbiasa membuang sampah tidak pada tempatnya pasti akan membuang sampah pada tempatnya. Kondisi telah merubah paradigm kita". Tegasnya
Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari, 19-21 Juli 2013 tersebut berlangsung di Hotel Haris Bandung. Adapun peserta kegiatan tersebut terdiri dari guru pendidikan agama Islam dan Pengawas PAI dari 26 provisni, diantaranya Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bangka Blitung, Riau, Kepri, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Gorontalo, NTB, NTT, Papua dan Papua Barat.(Sumber: Website Resmi Kemenag).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Income Plus